Monday, August 21, 2017

Penyaliban Nabi Isa Menurut Al-Qur'an

Alkitab menyatakan bahwa Yesus atau Nabi Isa a.s meninggal di kayu salib. Dalil ini terdapat dalam empat Injil kanonik. Beliau disalib di bukit Golgota atau “bukit tengkorak’’ karena di bukit ini para penjahat dihukum mati oleh pemerintah Romawi. Agama Islam yang datang beberapa ratus tahun kemudian memiliki konsep yang sama sekali berbeda: bahwa nabi Isa tidak disalib. Sebagian besar tradisi Islam, kecuali beberapa, secara kategoris menyangkal bahwa nabi Isa ditangkap dan meninggal secara fisik, baik di kayu salib atau dengan cara lain.
 
Kayu salib. Image: Pixabay
Tradisi paling awal berasal dari keterangan Ibn Ishaq (wafat tahun 761 AD) yang menjelaskan mengenai kejadian menjelang penyaliban, catatan pertama menyatakan bahwa nabi Isa digantikan oleh seseorang yang bernama Sergius, adapun catatan kedua melaporkan tentang makam nabi Isa terletak di Madinah. Ibn Kathir (wafat tahun 1373 AD) mengikuti tradisi yang menyatakan bahwa penyaliban memang terjadi, namun bukan terhadap nabi Isa. Setelah kejadian tersebut, Ibn Kathir melaporkan bahwa orang-orang dibagi menjadi tiga kelompok; kelompok pertama adalah kaum Yakub percaya bahwa 'Tuhan tetap bersama kita selama Dia menghendakinya dan kemudian Dia naik ke Surga;' kelompok kedua adalah kaum Nestor percaya bahwa 'Anak Allah menyertai kita selama dia berkehendak sampai Tuhan membangkitkan dia ke surga;' adapun kelompok ketiga adalah umat Muslim percaya bahwa; 'Hamba dan utusan Allah, Isa, tinggal bersama kita selama kehendak Tuhan sampai Tuhan membangkitkan dia kepada diri-Nya sendiri.'

Al-Qur’an menjelaskan hal ini dalam ayat berikut:

(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, … (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata". [Surat Al-Ma'idah Ayat 110]

Kata كَفَفْتُ atau “menghalangi” memiliki makna restrained. Adapun yang dimaksud dengan restrain adalah mengendalikan tindakan atau perilaku secara paksa, terutama untuk menghentikan mereka melakukan sesuatu – menurut cambridge dictionary. Restrain bisa juga bermakna mencegah (seseorang) melakukan sesuatu; Tetap terkendali atau dalam batasan – menurut oxford dictionary. Tetapi bagaimana sebenarnya mekanisme كَفَفْتُ atau “menghalangi” itu terjadi?

Al-Qur’an menjelaskan dalam ayat berikut:

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [Surat An-Nisa' Ayat 158]

Kata رَفَعَهُ atau “mengangkat” menurut tata bahasa adalah raise. Menurut oxford dictionaries, raise yaitu mengangkat atau memindahkan suatu obyek ke tempat atau posisi yang lebih tinggi. Kata “mengangkat” dalam hal ini adalah makna sebenarnya, bukan makna kiasan. Hal ini menepis spekulasi bahwa nabi Isa ditangkap, disiksa, kemudian dihukum di tiang salib. Karena jika demikian, maka ayat ini menjadi tidak ada artinya.
 
Ilustrasi nabi Isa bersama para murid. Image: Wikimedia
Dalam sebuah Alkitab berusia 1.500 tahun terdapat keterangan bahwa Yesus adalah manusia biasa dan tidak pernah disalib. Alkitab yang dikenal sebagai Injil Barnabas tersebut ditulis dengan menggunakan bahasa Aram, berisi perkataan Yesus sebagai berikut:

“Aku mengaku di hadapan langit dan bersaksi untuk menyaksikan segala sesuatu yang ada di bumi, bahwa aku adalah orang asing bagi semua orang yang telah mengatakan bahwa aku lebih dari hanya sekedar manusia. Karena aku ini seorang laki-laki, lahir dari seorang wanita, tunduk pada penghakiman Allah; Yang tinggal di sini seperti orang lain, tunduk pada kesengsaraan yang umum.”

Al-Qur’an menjelaskan hal ini dalam ayat berikut:

Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka ... [Surat An-Nisa' Ayat 157]


Alkitab berusia tua tersebut juga menyatakan bahwa Yudas Iskariot sebagai orang yang mati di kayu salib dan bukan Yesus. Injil ini mungkin tidak sah dan tidak diakui oleh Gereja. Tetapi bukan itu yang hendak ditekankan disini. Adanya “Injil alternatif” membuktikan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani sebelum datangnya agama Islam tidak semuanya sepakat bahwa nabi Isa a.s tertangkap dan dihukum mati di kayu salib.

... Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. [Surat An-Nisa' Ayat 157]

Selain injil Barnabas, ada Injil lain (Injil Basilides) yang juga berpendapat bahwa nabi Isa digantikan oleh orang lain ketika proses penyaliban. Orang yang membawa salib kayu itu bernama Simon dari Kirene. Basilides sendiri mengajar di kota Alexandria (Mesir) pada tahun 117-138 AD. Sama seperti Injil Barnabas, apa yang disampaikan di dalam Injil Basilides dianggap tidak sah dan tidak sesuai dengan versi resmi yang telah disepakati. Di dalam Injil Basilides menyebutkan keterangan sebagai berikut:

“Dia muncul di bumi sebagai manusia dan melakukan mukjizat. Dengan demikian dia sendiri tidak menderita. Sebaliknya, Simon dari Kirene terpaksa membawa salibnya untuknya. Dialah yang menyimpang dan disalibkan secara keliru, diubah rupa olehnya, sehingga dia dianggap sebagai Yesus. Selain itu, Yesus secara fisik menyerupai Simon, dan berdiri sambil menertawakan mereka.”

Sebagai penutup, mayoritas umat Islam berpendapat bahwa nabi Isa a.s atau Yesus tidak ditangkap dan tidak pula disalib. Peristiwa penyaliban memang terjadi tetapi yang disalib adalah orang lain. Hanya saja terjadi perbedaan pendapat mengenai orang yang menggantikan nabi Isa. Injil Barnabas mengatakan bahwa orang tersebut adalah Yudas Iskariot, salah satu murid Yesus yang berkhianat. Injil Basilides berpendapat bahwa yang menggantikan Yesus kemungkinan adalah Simon dari Kirene. Ibn Ishaq mengatakan bahwa orang itu bernama Sergius. Ibn-al-Athir mengatakan bahwa nabi Isa kemungkinan digantikan oleh orang lain bernama Natlianus. Wallaahu a’lam bishawaab.

Friday, August 18, 2017

Gaya Gravitasi Pada Permukaan Bumi

Dalam fisika dikenal adanya konsep gravitasi berupa kekuatan yang menahan kita agar senantiasa tetap berada di permukaan bumi. Gravitasi bertindak seperti magnet - menarik benda secara bersamaan. Apa yang menyebabkan gravitasi tidak diketahui secara pasti. Bumi memiliki gravitasi yang memegang atau menahan segala sesuatu yang dekat dengan planet ini. Pepohonan, air, binatang, bangunan, dan udara yang kita hirup semuanya dipegang atau ditahan oleh gravitasi. Semua planet, satelit mereka, dan bintang di alam semesta juga memiliki gravitasi.
 
Tanpa gravitasi. Image: Pixabay
Gaya gravitasi jauh lebih besar untuk objek yang lebih besar. Bumi memiliki banyak massa, itulah sebabnya mengapa permukaan bumi dapat menahan Anda agar tidak terlempar ke ruang angkasa. Gravitasi dipengaruhi oleh dua hal, ukuran dan kedekatan objek. Bumi dan bulan memiliki daya tarik kuat satu sama lain dibandingkan bumi dengan planet lain. Hal ini karena bumi dan bulan lebih dekat satu sama lain. Bumi juga memberikan tarikan yang lebih kuat daripada bulan karena bumi memiliki ukuran lebih besar. Karena itu ada lebih banyak kekuatan yang menarik tubuh kita di bumi daripada yang kita rasakan di bulan jika kita adalah astronot yang berkunjung ke sana.

Al- Qur’an menjelaskan hal ini dalam ayat berikut:

Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul, orang-orang hidup dan orang-orang mati? dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air tawar?[Surat Al-Mursalat Ayat 25-27]

Kata كِفَاتًا atau “tempat berkumpul” secara bahasa adalah a receptacle. Adapun definisi dari receptacle adalah sebuah wadah, perangkat, dll., yang menerima atau menahan segala yang ada pada wadah atau perangkat tersebut. Kalau kita kaitkan dengan bumi, maka كِفَاتًا adalah mekanisme yang membuat manusia tetap tertahan di permukaan bumi dan tidak terlempar ke ruang angkasa.

Sejarah pemikiran tentang gravitasi dimulai pada abad ke-4 BC oleh filsuf Yunani Aristoteles yang percaya bahwa tidak ada efek atau gerak tanpa sebab. Penyebab gerakan ke bawah terjadi pada benda berat, yang menyebabkan mereka bergerak ke bawah menuju pusat alam semesta, atau bumi. Sebaliknya, benda ringan seperti elemen api, bergerak ke atas menuju permukaan bagian dalam bulan. Jadi dalam konsep gravitasi Aristoteles, benda berat tidak tertarik ke bumi dengan kekuatan gravitasi dari luar, melainkan cenderung ke arah pusat alam semesta karena adanya gravitasi dari dalam benda itu sendiri.

Dalam Buku VII dari De Architectura, arsitek Romawi bernama Vitruvius berpendapat bahwa gravitasi tidak bergantung pada "bobot" substansi, melainkan pada "sifatnya".
 
Paviliun Al-Biruni (Vienna). Image: Wikimedia
Brahmagupta, astronom dan matematikawan India yang karyanya mempengaruhi matematika Arab pada abad ke-9, berpendapat bahwa bumi itu bulat dan menarik benda-benda. Al Hamdānī dan Al Biruni mengutip Brahmagupta dengan mengatakan “Terlepas dari hal ini, kita katakan bahwa bumi di semua sisi adalah sama; semua orang di bumi berdiri tegak, dan semua benda berat jatuh ke bumi oleh hukum alam, karena itu adalah sifat bumi untuk menarik dan menahan segala sesuatunya.”

Konsep gravitasi pada zaman modern dipengaruhi oleh Sir Isaac Newton dan Albert Einstein. Hukum gravitasi universal Newton menyatakan bahwa setiap massa menarik setiap massa lainnya di alam semesta, dan gaya gravitasi antara dua benda sebanding dengan produk massa mereka, dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak di antara keduanya. Adapun menurut Einstein, gravitasi adalah distorsi ruang (atau lebih tepatnya, ruangwaktu) disebabkan oleh adanya materi atau energi. Benda besar menghasilkan medan gravitasi dengan melengkungkan geometri ruangwaktu di sekitarnya. Wallahu a’lam bishawaab.

Wednesday, August 16, 2017

Tubuh Manusia Tercipta Dari Air

Dalam sebuah studi, tubuh manusia dewasa rata-rata 65 persen adalah air. Angka ini dapat bervariasi secara substansial berdasarkan usia, jenis kelamin, dan adipositas (jumlah lemak dalam komposisi tubuh). Menurut beratnya, rata-rata pria dewasa sekitar 60 persen adalah air adapun rata-rata untuk wanita dewasa sekitar 50 persen adalah air. Pada bayi yang baru lahir sekitar 75-78 persen adalah air. Konsep ini dikenal sebagai air tubuh, yaitu kandungan air di dalam jaringan, darah, tulang dan tempat lain. Air ini merupakan bagian tubuh manusia yang signifikan, baik berat maupun volume.
 
Air dalam tubuh manusia. Image: pbslearningmedia
Setiap hari manusia harus mengkonsumsi sejumlah air untuk bertahan hidup. Tentu saja, ini bervariasi menurut usia dan jenis kelamin, dan juga dimana seseorang tinggal. Umumnya, pria dewasa membutuhkan sekitar 3 liter per hari sementara kebutuhan wanita dewasa sekitar 2,2 liter per hari.

Al-Qur’an menjelaskan hal ini dalam ayat berikut:

Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. [Surat Al-Furqan Ayat 54]

Sebagian besar air tubuh berada dalam cairan intraselular (2/3 bagian). Adapun sisanya berada dalam cairan ekstraselular (1/3 bagian). Jumlah air bervariasi, tergantung organnya. Sebagian besar air berada dalam plasma darah (20 persen dari total tubuh). Menurut sebuah penelitian, jumlah air di hati dan otak manusia adalah 73 persen, paru-paru sekitar 83 persen, otot dan ginjal sekitar 79 persen, kulit sekitar 64 persen dan tulang sekitar 31 persen.


Tubuh membutuhkan air minum karena 2,5 liter air hilang setiap hari. Ada dua isu utama yang menekankan perlunya menjaga tubuh dengan mengkonsumsi air dalam jumlah tertentu. Pertama, air yang masuk ke dalam tubuh kita bisa mencegah toksin dan zat kimia yang bersifat destruktif pada sel. Air membawa semua mineral dan nutrisi yang dibutuhkan untuk metabolisme sel serta menghilangkan zat yang bisa merusak sel. Kedua, air terlibat dalam setiap fungsi tubuh, bertindak sebagai konduktor aktivitas elektrokimia, dengan memindahkan air dari satu sel saraf ke sel lainnya dengan lancar dan efektif. Wallaahu a’lam bishawaaab.

Sunday, August 6, 2017

Konsep Ruang-Waktu Dan Garis Dunia

Dalam fisika, ruang-waktu adalah model matematis yang menggabungkan tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu ke dalam rangkaian tunggal 4 dimensi. Dalam teori Einstein, ruang dan waktu bukan konsep yang terpisah, melainkan entitas tunggal yang disebut ruangwaktu. Kita dapat menganalogikan ruangwaktu sebagai kain halus yang terdistorsi oleh adanya energi. Dari sini lahir istilah kain ruang dan waktu. Istilah kain digunakan untuk membantu kita memvisualisasikan bagaimana ruang-waktu diterapkan dalam teori general relativity.


Konsep ruang-waktu tidak bisa dipisahkan dengan konsep garis dunia (atau worldline). Konsep garis dunia adalah jalur unik yang dimiliki objek saat melintasi ruang dan waktu, yang disebut ruangwaktu. Wordline adalah konsep penting dalam fisika modern, dan khususnya teori fisika. Konsep ''garis dunia'' dalam hal ini dibedakan dari konsep ''orbit'' atau ''lintasan''. Misalnya, orbit Bumi di angkasa kira-kira menyerupai lingkaran. Bumi kembali setiap tahun ke titik yang sama di luar angkasa, Namun tiba di sana pada waktu yang berbeda. Adapun garis dunia Bumi berbentuk heliks (spiral) di ruangwaktu berupa kurva dalam ruang empat dimensi dan tidak kembali ke titik yang sama.

Al-Quran menjelaskan hal ini sebagai berikut:

Demi langit yang mempunyai jalan-jalan. [Surat Az-Zariyat Ayat 7]

Kata الْحُبُكِ atau ''jalan-jalan'' secara bahasa bermakna tenunan. Lafal Al Hubuk adalah bentuk jamak dari Habiikah. Kata tersebut berasal dari kata kerja menenun atau mengikat bersama-sama. Menurut wikipedia, Menenun adalah proses pembuatan barang-barang tenun (kain) dari persilangan dua set benang dengan cara memasuk-masukkan benang pakan secara melintang pada benang-benang lungsin. Pola silang-menyilang antara benang lungsin dan benang pakan disebut tenunan atau anyaman. Manusia modern mengenal konsep menenun diperkirakan sejak 8.000 tahun lalu. Contoh yang relevan dalam hal ini adalah peradaban Mesir kuno. Ketenaran dari kain lenan yang halus dari Mesir kuno pantas untuk disebut sebagai tempat kelahiran linen. Adapun Timur Tengah memiliki kain yang disebut attabi.

Struktur kain attabi. Image: Wikimedia
Menurut ahli geografi pada abad ke-12 yang bernama al-Idrīs, kota Almería di Andalusia memproduksi tiruan sutra Irak dan Persia yang disebut 'attābī. Sejarawan David Jacoby mengidentifikasi kain tersebut sebagai "kain taffeta yang terbuat dari sutra dan kapas (serat alami), Diproduksi di Attabiya, sebuah distrik di Baghdad."

Al-Farraa' mengatakan, Hubuk berarti riak-riak yang dihasilkan di permukaan, seperti pasir ketika angin dengan kecepatan lambat melewatinya. Bagian yang bengkok dari rambut keriting juga bisa disebut sebagai Hubuk. Hal ini sejalan dengan artikel berjudul "Para ilmuwan menemukan riak-riak pada kain ruang waktu" dimana pada tahun 2015, dua detektor yang terpisah sekitar 1.800 mil menunjukkan adanya riak-riak pada kain ruangwaktu. Hal ini memberi wawasan baru bagi para ilmuwan dalam mempelajari alam semesta.

Setiap membahas tentang kosmologi memerlukan pertimbangan cermat dari apa yang dapat kita lihat dan kapan kita dapat melihatnya. Cara yang baik untuk melacak konsep-konsep ini adalah diagram ruang-waktu. Diagram ruang-waktu merupakan sebuah grafik yang menunjukkan posisi objek sebagai fungsi waktu.

Worldline. Image: The University of California, Los Angeles

Gambar di atas menunjukkan diagram ruang-waktu di Bumi yang mengelilingi Matahari. Jadi bagian bawahnya adalah masa lalu, atau masa awal, dan puncaknya adalah masa depan, atau akhir-akhir ini. Suatu titik pada grafik ini menggambarkan posisi (koordinat horizontal atau x) dan waktu (koordinat vertikal atau t). Sebuah "titik" dalam ruang-waktu disebut sebuah peristiwa. Garis yang mewakili posisi Bumi sebagai fungsi waktu itulah yang disebut sebagai worldline. Wallaahu a'lam bishawaab.

Thursday, October 20, 2016

Mengungkap Sosok Zul Qarnain & Tembok Yakjuj Makjuj (Part 5)

Biasanya kalau mendengar kata kaisar Romawi maka yang ada dalam benak kita adalah sosok yang ambisius, serakah, kejam, haus darah, menindas, dan gambaran buruk lainnya. Antoninus Pius adalah sebuah pengecualian. Selama dua puluh tiga tahun memerintah, ia sangat memperhatikan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Romawi. Pada masa pemerintahannya, kekaisaran Romawi relatif tenang dan damai (Bury, pg. 525).

Kuil Antoninus & Faustina. Image: Wikimedia
Kaisar membangun kuil, teater, dan mausoleum, mempromosikan seni dan ilmu pengetahuan. Gelar kehormatan dan support finansial diberikan pada guru retorika dan filsafat. Antoninus membuat beberapa perubahan awal ketika ia menjadi kaisar, membuang banyak kebijakan yang diterapkan oleh kaisar Hadrian. Antoninus dianggap sebagai administrator terampil dan sebagai pembangun. Meskipun banyak melakukan pembangunan – akses gratis untuk air minum diperluas dengan pembangunan saluran air, tidak hanya di Roma, tetapi di seluruh Kekaisaran, serta jembatan dan jalan, Kaisar masih berhasil meninggalkan harta yang cukup besar bagi publik sekitar dua setengah juta sestertium (mata uang Romawi). Dalam sejarah panjang kekaisaran Romawi, tidak ada kaisar lain yang mampu melakukan pencapaian yang sama.

Antoninus Pius juga terkenal menangguhkan pemungutan pajak dari wilayah yang terkena bencana alam, seperti ketika kebakaran melanda Roma dan Narbona, dan ketika gempa bumi mengguncang Rhodes dan Provinsi Asia. Dia menawarkan hibah keuangan dalam jumlah besar besar untuk membangun kembali dan pemulihan berbagai kota-kota Yunani setelah dua gempa bumi yang serius. Gempa pertama, sekitar tahun 140 AD, mengguncang sebagian besar Rhodes dan pulau-pulau lainnya. Gempa kedua, sekitar tahun 152 AD, mengguncang Cyzicus, Ephesus dan Smirna. Bantuan keuangan Antoninus membuatnya mendapatkan pujian oleh para penulis Yunani seperti Aelius Aristides dan Pausanias (E.E. Bryant, The Reign of Antoninus Pius. Cambridge University Press: 1895, pages 45/46 and 68).

Koin Antoninus. Image: Wikimedia
Di wilayah dimana ilmu pengetahuan berkembang seperti Yunani, Antoninus lihai mendekatkan dirinya dengan kaum intelektual lokal. Filsuf, guru sastra, retorika dan dokter secara eksplisit dibebaskan dari tugas-tugas yang melibatkan pengeluaran pribadi untuk tujuan sipil. Antoninus juga menyediakan sarana pendidikan untuk pengajaran retorika di Athena.

Dalam hal penegakan hukum, Antoninus mengambil minat besar dalam revisi dan praktek hukum di seluruh kekaisaran. Dia meminta masyarakat setempat menyesuaikan prosedur hukum mereka dengan norma-norma yang ada di kota Roma. Dalam kasus mengenai tindakan represif terhadap penjahat oleh petugas keamanan setempat ("irenarchs") di Asia Kecil, Antoninus memerintahkan petugas tersebut tidak harus memperlakukan tersangka secara semena-mena. Kaisar juga meminta petugas menyimpan salinan rinci interogasi mereka, untuk digunakan dalam kemungkinan banding ke gubernur Romawi (Clifford Ando, Imperial Rome AD 193 to 284: The Critical Century. Edinburgh University Press, 2012). Meskipun Antoninus bukan inovator, ia tidak akan selalu mengikuti surat mutlak hukum. Ia lebih mengutamakan prinsip kemanusiaan dan kesetaraan; memperkenalkan banyak prinsip baru ke dalam hukum berdasarkan gagasan ini.

Gelas Romawi berada di Kekaisaran China. Image: Wikimedia
Bukan hanya masyarakat sipil, Antoninus juga memfasilitasi pemberian hak suara untuk budak. Ia akan menghukum pembunuhan terhadap budak oleh tuannya tanpa pengadilan sebelumnya. Kaisar juga menetapkan bahwa budak bisa dijual paksa ke majikan lain (yang memiliki perilaku baik) dalam kasus penganiayaan yang terus menerus (Anastasia Serghidou, ed. Fear of slaves, fear of enslavement in the ancient Mediterranean. Presses Univ. Franche-Comté, 2007). Kaisar menjunjung tinggi martabat wanita, melarang memperkerjakan mereka dalam prostitusi. Penggunaan penyiksaan dalam memeriksa budak telah dikurangi dalam batasan-batasan tertentu. Larangan untuk melakukan penyiksaan untuk anak di bawah empat belas tahun, meskipun aturan ini memiliki pengecualian – Hal ini karena usia dan gender kadang disalahgunakan terkait dengan hukum.

Antoninus Pius adalah Kaisar Romawi yang diakui hingga wilayah India. Para raja dari India, Bactrian dan Hyrcanian semua mengirim duta besar ke Roma. Mereka semua sudah mendengar tentang spirit keadilan dan kemurahan hati sang kaisar. Bahkan sejarah mencatat bahwa sifat negarawan Antoninus Pius sampai ke wilayah China. Kekaisaran China juga mengirim duta besar mereka. Mereka membawa hadiah berupa cula badak, gading dan kulit kura-kura. Teks secara khusus menyatakan bahwa itu adalah untuk pertama kalinya telah terjadi kontak langsung antara dua kerajaan.

Mausoleum Hadrian. Image: Wikimedia
Ketika Antoninus Pius telah berumur 70 tahun kesehatannya sudah memburuk. Dua hari sebelum kematiannya, Antoninus menyempatkan berada di makam leluhurnya di Lorium, wilayah Etruria, sekitar 19 km dari Roma. Dia makan keju Alpine saat makan malam dengan lahap. Tetapi menjelang malam ia muntah; kemudian demam hari berikutnya. Sehari setelah itu, tanggal 7 Maret 161 AD, ia memanggil dewan kekaisaran, menyerahkan tampuk pemerintahan kepada Marcus Aurelius. Kaisar menutup matanya di tempat tidur, dan meninggal. Jasadnya dimakamkan di Mausoleum Hadrian. Wallahu a'lam.